
Sakit pinggang (low back pain/LBP) kembali disorot sebagai beban kesehatan dunia. Studi Global Burden of Disease (GBD) terbaru yang dipublikasikan Juli 2025 di jurnal Arthritis Care & Research menunjukkan bahwa obesitas, ergonomi kerja buruk, dan merokok menjadi pemicu utama meningkatnya kasus nyeri pinggang dalam tiga dekade terakhir.
Obesitas Jadi Faktor Risiko Paling Cepat Naik
Antara 1990 hingga 2021, kontribusi obesitas terhadap kasus nyeri pinggang naik lebih dari 40%. Peningkatan ini lebih tinggi pada perempuan dibanding laki-laki, dan paling jelas di negara dengan indeks pembangunan sosial-ekonomi tinggi. Namun tren obesitas kini juga terlihat di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
“Obesitas bukan hanya masalah metabolik, tapi juga memperberat beban muskuloskeletal seperti nyeri pinggang,” tulis para peneliti GBD dalam laporannya.
Dampak untuk Indonesia
Data Riskesdas 2023 mencatat prevalensi obesitas dewasa di Indonesia naik menjadi 23,6%, dari 21,8% pada 2018. Kondisi ini berarti jutaan orang dewasa produktif berpotensi mengalami keluhan nyeri pinggang lebih awal.